Sabtu, 29 September 2012

PMS (Pre Menstrual Syndrom)


Sindroma Premenstruasi (PMS) = Pre Menstrual Syndrome (Kelainan Disforik Premenstruasi) merupakan suatu keadaan dimana sejumlah gejala terjadi secara rutin dan berhubungan dengan siklus menstruasi; gejala biasanya timbul 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi dimulai.
Premenstrual syndrome (PMS) adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum haid dan menghilang dengan keluarnya darah menstruasi serta dialami oleh banyak wanita sebelum awitan setiap siklus menstruasi (Brunner & Suddarth, 2001). Magos dalam Hacker (2001), mendefenisikan bahwapremenst rualsyndr ome (PMS) adalah gejala fisik, psikologis dan perilaku yang menyusahkan yang tidak disebabkan oleh penyakit organik yang secara teratur berulang selama fase siklus haid menghilang selama waktu haid yang tersisa. Sekitar 5-10% wanita menderita PMS yang berat sehingga mengganggu kegiatan sehari-harinya.
            Menurut Shreeve (1983)premenst rual syndrome (PMS) adalah sejumlah
perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-14
sebelum menstruasi dan mereda segera setelah menstruasi berawal. Dalton (1983), mendefinisikanpremenst rual syndrome (PMS) adalah kambuhnya gejala-gejala pada saat
premenstrum dan menghilang setelah menstruasi usai.

Penyebab
 Sindroma premenstruasi mungkin berhubungan dengan naik-turunnya kadar estrogen dan progesteron yang terjadi selama siklus menstruasi. Estrogen menyebabkan penahanan cairan, yang kemungkinan menyebabkan bertambahnya berat badan, pembengkakan jaringan, nyeri payudara dan perut kembung.
Penyebab yang pasti dari sindroma premenstruasi tidak diketahui; tetapi mungkin berhubungan dengan faktor-faktor sosial, budaya, biologi dan psikis. Sindroma premenstruasi terjadi pada sekitar 70-90% wanita pada usia subur. Lebih sering ditemukan pada wanita berusia 20-40 tahun.
Selain itu juga berhubungan dengan hipoglikemia (kadar gula darah rendah yang  abnormal/hypothyroid). Berhubungan dengan hormon pituitari, prostagalandin, dan neurotransmitter di otak. Karena kurang asupan vitamin B, Kalsium dan Magnesium. Penyebab adanya gangguan menstruasi bersifat multifaktor, namun ditengarai, ketidakseimbangan hormonlah yang paling bertanggung jawab. Namun sebagai wanita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kini saatnya membuktikan kita mampu mengatasi gangguan menstruasi dengan cara yang tepat. Untuk itu, wanita harus paham betul bahwa akar masalah munculnya gangguan menstruasi adalah ketidakseimbangan hormone.

Gejala
            Jenis dan beratnya gejala bervariasi pada setiap wanita dan bervariasi pada setiap bulan. Wanita yang menderita epilepsi mungkin akan lebih sering mengalami kejang. Wanita yang menderita penyakit jaringan ikat (misalnya lupus atau artritis rematoid) bisa mengalami kekambuhan.
Gejala-gejala yang mungkin ditemukan adalah:
1.  Perubahan fisik  
-    Sakit punggung  
 -    Perut kembung 
-       Jerawat
-       Perubahan nafsu makan, sering merasa lapar 
-       Lekas letih, pegal, linu 
-       Payudara terasa penuh dan nyeri  
-       Perubahan nafsu makan
-       Sembelit  
-       Pusing 
-       Pingsan
-       Sakit kepala 
-       Daerah panggul terasa berat atau tertekan 
-       Hot flashes (kulit wajah, leher, dada tampak merah dan teraba hangat)
-       Susah tidur
-       Tidak bertenaga 
-       Mual dan muntah
-       Kelelahan yang luar biasa 
-       Kelainan kulit (misalnya jerawat dan neurodermatitis
 -       Pembengkakan jaringan atau nyeri persendian
-       Penambahan berat badan
 
2.    Perubahan suasana hati
-       Mudah marah   
-       Cemas   
-       Depresi   
-   Mudah tersinggung  
-       Gelisah
 -       Sebentar sedih 
-       Sebentar gembira 
-       Emosi labil

3.    Perubahan mental
-       Kalut
-       Sulit berkonsentrasi
-       Pelupa.
-       Keinginan menyendiri
-       Merasa tidak aman
-       Perubahan doronagn seksual
-       Perasaan bersalah

 Tips untuk mengurangi gejala PMS :
  1. Terapkan pola nutrisi yang sehat (rendah lemak dan garam, tinggi protein, vitamin dan mineral). Perbanyak porsi buah-buahan, sayur mayur, gandum yang tinggi serat. Jika diperlukan, dapat ditambahkan makanan kesehatan (food supplement) yang berupa multivitamin seperti kalsium yang dapat mengurangi rasa kram, Vitamin E untuk mengurangi rasa nyeri pada payudara, keletihan dan insomnia serta Vitamin B6 untuk mengatasi keletihan, iritabilitas dan mood swings.  
  2. Hindari makanan dengan kadar garam tinggi, makanan manis, kafein, alcohol.
  3. Selalu melakukan olahraga rutin. 
  4.  Tidur cukup minimal 8 jam/hari. 
  5.  Hindari rokok. 
  6.  Hindari stress berkepanjangan. 
  7.  Terapi relaksasi (hipnoterapi, terapi warna, meditasi, aromaterapi dsb). 
  8.  Lakukan akupunktur

Beberapa tipe PMS dan gejalanya.
            PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita  mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium.
Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat danmengurangi atau membatasi minum kopi.

            PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema(pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe PMS lain. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet makanan serta membatasi minum sehari-hari.

            PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium.

            PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh tipe PMS benar-benar murni tipe D. PMS tipe D murni disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon estrogennya. Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan dan penyimpanan timbal di tubuh, atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.
 

0 komentar:

Posting Komentar